Kamis, 20 Desember 2018

makalah penyusutan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Suatu perusahaan tertentu pada dasarnya selalu berusaha untuk mencapai tujuan didirikanya perusahaan tersebut. Dalam operasinya perusahaan memerlukan aktiva untuk menunjang kelancaran usahanya. Jenis aktiva yang diperoleh ada yang mempunyai masa menfaat kurang dari satu tahun atau sekali pakai, dan ada juga aktiva yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, untuk menujang agar tercapainya tujuan dari perushaan itu sendiri.
Aktiva tetap merupakan komponen yang sangat penting bagi perusahaan untuk kegiatan operasionalnya. Dalam penilaian aktiva tetap suatu perusahaan dapat disesuaikan dengan Pernyatan Standart Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 (2009). dalam PSAK dinyatakan bahwa aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk dignakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode. Aset tetap biasanya memiliki masa pemakaian lebih dari satu tahun , namun manfaat yang diberikan aktiva tetap umumnya semakin lama semakin Faktor yang mempengaruhi menurunya kemampuan suatu aktiva tetap untuk pengunaan yang berlebihan dan secara fungsional, disebabkan oleh ketidakcukupan kapasitas yang tersedia denga yang diminta. Apabila menggunakan metode penyusutan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku, maka akan mempengaruhi nilai dari aktiva tetap tetsebut.
B.     Rumusan Masalah
1.        Apa yang dimaksud dengan penyusutan ?
2.        Apa yang dimaksud dengan metode dan tarif penyusutan ?
3.        Kapan dimulainya penyusutan ?
4.        Bagaimana cara perhitungan penyusutan beserta contonya ?


C.    Tujuan Masalah
1.              Mengetahui apa yang di maksud dengan penyusutan
2.              Mengetahui metode dan tarif penyusutan
3.              Mengetahui kapan dimulainya penyusutan itu terjadi
4.              Mengetahui cara perhitungan penyusutan


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Penyusutan
Penyusutan merupakan konsep alokasi harga perolehan harta tetap yang berwujud dan harta tetap yang tidak berwujud. Untuk menghitung besarnya penyusutan harta yang dimiliki baik oleh orang pribadi atau badan, harus diketahui dulu golongan dari aktiva/harta itu. Secara garis besar, harta yang berwujud terbagi menjadi dua golongan, yaitu:
Untuk menghitung besarnya penyusutan harta tetap berwujud dibagi menjadi dus golongan:
  1. Harta berwujud yang bukan berupa bangunan.
  2. Harta berwujud yang berupa bangunan.
Kelompok Harta
Berwujud
Masa
Manfaat
Tarif Depresiasi
Garis Lurus
Saldo Menurun
Bukan bangunan
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Kelompok 4

4 tahun
8 tahun
16 tahun
20 tahun

25%
12,5%
6,25%
5%

50%
25%
12,5%
10%
Bangunan
Permanen
Tidak permanen

20 tahun
10 tahun

5%
10%



·         Apabila terjadi pengalihan atau penarikan harta sebagai penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari wajib pajak atau pemerintah, atau penarikan harta karena sebab lainnya, maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah harga jual atau penggantian asuransinya yang diterima atau diperoleh dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penarikan harta tersebut. Apabila hasil penggantian asuransi yang akan diterima jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti dimasa kemudian, maka dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak jumlah sebesar kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (8) dibukukan sebagai beban masa kemudian tersebut.
·         Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat bagaimana bantuan sumbangan dan harta hibahan, yang berupa harta berwujud, maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak boleh dibebankan sebagai kerugaian bagi pihak yang mengalihkan.
Penyusutan harta berwujud
a.       Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut.
Menyimpang dari ketentuan tersebut di atas, ketentuan tentang penyusutan atas harta berwujud yang dimiliki dan digunakan dalam usaha tertentu, ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
b.      Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud di atas selain bangunan, dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat asas.
B.     Metode Penyusutan Aktiva
Pola penggunaan aktiva berpengaruh terhadap tingkat keausan aktiva, yang mana untuk mengamodasi situasi ini biasanya dipergunakan metode penyusutannya yang paling sesuai. Berikut ini adalah metode penyusutan aktiva tetap. Metode penyusutan menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan sebagaimana telah diatur dalam pasal 11 Undang-Undang PPh, metode tersebuT yang digunakan untuk menghitung besarnya jumlah penyusutan secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
  1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
Dalam metode ini konsep dasarnya menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata (tanpa fluktuasi) disepanjang masa penggunaanya, sehingga aktiva tetap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama dari periode ke periode hingga aktiva ditarik dari penggunaanya.
Metode ini termasuk yang paling luas dipakai. Untuk penerapan “(Matching Cost Principle)”, metode garis lurus dipergunakan untuk menyusutkan aktiva-aktiva yang fungsionalnya tidak terpengaruh oleh besar kecilnya volume produk atau jasa yang dihasilkan, sebagai contoh bangunan, peralatan kantor. Dan dalam metode garis lurus ini bisa juga disebut dengan julmah penyusutan yang dikeluarkan sama besarnya untuk setiap tahun sesuai dengan umur ekonomis dari harta tersebut.
Jumlah penyusutan tahunan :
Rumus :
 
Dimana:
HP= harga perolehan
NS= Nilai sisa
n= taksiran umum kegunaan
  1. Metode Saldo Menurun (Decilining Balance Method)
Dalam metode ini konsep dasarnya adalah, bahwa aktiva tetap dianggap akan memberikan kontribusi terbesar pada periode diawal-awal masa penggunaannya, dan akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang semakin besar periode berikutnya seiring dengan semakin berkurangnya umur ekonomis atas aktiva tersebut.
Dalam jumlah penyusutan yang dikeluarkan berbeda jumlahnya untuk setiap tahun bahkan setiap tahun jumlahnya semakin menurun. Metode ini sesuai jika dipergunakan untuk jenis aktiva tetap yang tingkat kehausannya tergantung dari volume produk yang dihasilkan, yaitu jenis aktiva mesin produksi.
Rumus:
 
Dimana : n = Umur ekonomis
NS=Nilai Sisa
HP=Harga Perolehan
3.      Metode Saldo Menurun Ganda
Beban penyusutan setiap tahun menurun akan dihitung dengan dasar presentase depresiasi metode garis lurus. Kemudian berikutnya presentasi ini dikalikan dua dan setiap tahunnya dikalikan nilai buku aktiva tetap karena nilai buku selalu menurun maka beban depresiasi juga menurun.
Rumus: 
Persentase biaya depresiasi= (100%/ taksiran usia) x 2

  1. Metode Jumlah Angka Tahun
Metode ini diterapkan dengan menjumlahkan angka-angka dari taksiran umur ekonomis, kemudian perhitungan penyusutan dimulai dari angka tertinggi dari umur aktiva yang terkait dan selanjutnya menurun secara berurutan.
Rumus:
Dimana :  N=Angka tahun.

C.    Saat Dimulainya Penyusutan
Saat penyusutan dapat dimulai pada:
1.      Bulan dilakukannya pengeluaran harta yang terbentuk bukan bangunan seperti mesin, terutama dihitung pada saat pengeluaran uang yang digunakan untuk membeli harta tersebut.
Contoh: pada tanggal 2 Agustus PT X membeli mesin seharga 250 juta maka penyusutan dimulai pada tanggal 2 Agustus.
2.      Untuk harta yang masih dalam pengerjaan terutama yang berbentuk bangunan, penyusutannya dimulai pada bulan pengerjaan harta tersebut selesai dan bahkan sampai bangunan tersebut digunakan.
Contoh, PT A membangun sebuah gedung permanen yang dimulai pada tanggal 2 Agustus 2009, bangunan tersebut selesai dan digunakan pada tanggal 5 September 2011 maka penyusutan dihitung pada tanggal 5 September 2011.
3.      Dengan ijin dari Direktur Pajak, penyusutan dapat dimulai pada bulan harta berwujud mulai digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan.

D.    Contoh dan Latian Soal

1.      Metode Garis Lurus (Straight Line)

Rumus:
Biaya depresiasi per tahun= Nilai perolehan – Nilai Sisa
                                                             Taksiran Usia

Contoh soal 1:
Nilai perolehan mobil perusahaan adalah sebesar Rp 100 juta
Mobil tersebut dapat digunakan selama 5 tahun
Nilai residu mobil tersebut pada akhir tahun kelima adalah sebesar Rp 10 juta
Biaya depresiasi yang dibebankan setiap tahun untuk mobil ini?

Jawaban:
Nilai perolehan – Nilai Sisa
               Taksiran Usia
Rp 100 juta – Rp 10 juta
                   5 
=18 juta
Dengan menggunakan metode garis lurus, biaya penyusutan yang harus dibebankan untuk mobil setiap tahun sebesar Rp 18 juta. 
2.      Metode Saldo Menurun Ganda (Double declining balance)

Rumus: 
Persentase biaya depresiasi= (100%/ taksiran usia) x 2

Contoh soal 2:
Nilai perolehan mobil perusahaan adalah sebesar Rp 100 juta
Mobil tersebut dapat digunakan selama 5 tahun
Nilai residu mobil tersebut pada akhir tahun kelima adalah sebesar Rp 10 juta
Berapakah biaya depresiasi yang dibebankan setiap tahun untuk mobil yang dimaksud? 

Jawaban:
Persentase biaya depresiasi= (100%/ taksiran usia) x 2
                                                  = (100%/ 5) x 2
                                                  = 40 %
Biaya depresiasi yang dibebankan setiap tahun adalah 40% dari saldo atau nilai buku tahun yang bersangkutan. 

3.      Metode jumlah angka tahun (Sum of the year digits)

 Rumus:
 Jumlah Angka Tahun = N (N+1)/2
 Keterangan: N = Periode

 Contoh soal 3:
 Nilai perolehan mobil perusahaan adalah sebesar Rp 100 juta
 Mobil ini dapat digunakan selama 5 tahun
 Nilai residu mobil tersebut pada akhir tahun kelima adalaah sebesar Rp 10 juta
 Berapakah biaya depresiasi yang dibebankan setiap tahun untuk mobil ini ?

 Jawaban:
 Jumlah Angka Tahun = N (N+1)/2
                                         = 5 (5+1)/2 = (5 x 6)/2
                                         = 30/2 = 15

 
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
sepanjang masa manfaatnya. Dalam penyusutan perlu adanya karena manfaat yang diberikan dari aset tersebut semakin berkurang. Dalam pengurangan nilai aset sendiri dibebankan secara bertahap.
Semua bentuk aktiva tetap dikenai penyusutan kecuali tanah atau lahan. Aset tetap mrupakan subjek dari atau penyusutan yang nilai aktiva tetap selain tanah. Secara umum perusahaan dalam menentukan biasanya menggunakan beberapa metode penetapan nilai penyusutan yang sudah dijelaskan beserta tarif yang digunakan dalam penyusutan.





DAFTAR PUSTAKA
Hartati, Neneng.2015.Pengantar Perpajakan.Bandung:CV Pustaka Setia.
Suwandy,Erly.2006.Perpajakan.Jakarta:Salemba Empat.
Mustopo,purno,dkk.2011.Perpajakan Pendekatan SertifikasiABC.Jakarta:Mitra Wacana Media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download BTS Burn The Stage the movie subtitle indonesia Burn the Stage mengikuti perjalanan 300 hari dari grup K-Pop, tur dunia ...